Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan

14 Februari 2013

Merayakan Valentine's Day Bukan Hanya Maksiat, Tapi Bisa Murtad


 Merayakan Valentine's Day Bukan Hanya Maksiat, Tapi Bisa Murtad


Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah untuk Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Gempita Valentine's Day sangat meriah di negeri kita yang mayoritas kaum muslimin. Pusat berbelanjaan menjadikan moment ini untuk menarik pengunjung, khususnya dari kalangan remaja. Media juga sibuk mencari sensasi melalui sarana syahwati ini. Pebisnis makanan juga tak mau ketinggalan, ikut menyemarakkan hari kasih sayang haram melalui tawaran potongan harga dan lainnya.

Kita akui, banyak umat Islam yang masih menganggap perayaan Valentine's Day sebagai budaya semata. Mereka berpandangan, ini tak ada hubungannya dengan nilai agama. Terlebih paham sekularisme yang sudah mengakar, sehingga memposisikan agama ha
nya pada tempat-tempat tertentu. Setelah itu, agama tak boleh berperan dalam kehidupan harian. Ditambah munculnya pemikiran liberalisme dan pluralisme sehingga kebenaran menjadi samar dalam pandangan orang.

Secara historis, Valentine's Day merupakan praktek peribadatan dalam agama Kristen untuk mengenang St. Valentin yang mati sebagai martir untuk membela agamanya. Karenanya umat Islam harus berlepas diri dari tradisi ini. Sebab, tuntutan keimanan adalah membenci dan berlepas diri dari kekafiran dan pelakunya. Sedangkan menyerupai orang kafir dan ikut-ikutan dengan budaya mereka adalah tanda jelas adanya kecintaan dan kasih sayang kepada orang kafir. Sementara Allah telah melarang kaum mukminin mencintai, loyal dan mendukung mereka. Sedangkan loyal dan mendukung mereka adalah sebab menjadi bagian dari golongan mereka, -semoga Allah menyelamatkan kita darinya-.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka." (QS. Al-Maidah: 51)

Abdullah bin Utbah berkata, "Hendaknya salah seorang kalian takut menjadi Yahudi atau Nasrani tanpa ia sadari." Ibnu Sirin berkata, "Kami yakin dia (Abdullah bin Utbah) memaksudkan ayat ini." (Dinukil dari Tafsir Ibnu Katsir)

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka." (QS. Al-Mujadilah: 22)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Menyerupai (mereka) akan menunbuhkan kasih sayang, kecintaan, dan pembelaan dalam batin. Sebagaimana kecintaan dalam batin akan melahirkan musyabahah (ingin menyerupai) secara zahir.” Beliau berkata lagi dalam menjelaskan ayat di atas, “Maka Dia Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan, tidak akan didapati seorang mukmin mencintai orang kafir. Maka siapa yang mencintai orang kafir, dia bukan seorang mukmin. Dan penyerupaan zahir akan menumbuhkan kecintaan, karenanya diharamkan.”

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam secara tegas melarang umatnya dari ikut-ikutan kepada budaya dari luar. Bahkan beliau mengancam kepada siapa yang masih suka membebek dan ikut-ikutan, ia bagian dari orang kafir tersebut.

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ



Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka. (HR. Abu Dawud, Ahmad dan dishahihkan Ibnu Hibban. Ibnu Taimiyah menyebutkannya dalam kitabnya Al-Iqtidha’ dan Fatawanya. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2831 dan 6149)

Syaikhul Islam berkata, “Hadits ini –yang paling ringan- menuntut pengharaman tasyabbuh (menyerupai) mereka, walaupun zahirnya mengafirkan orang yang menyerupai mereka seperti dalam firman Allah Ta’ala, “Siapa di antara kamu yang berloyal kepada mereka, maka sungguh ia bagian dari mereka.” (QS. Al-Maidah: 51).” (Al-Iqtidha’: 1/237)

Imam al-Shan’ani rahimahullaah berkata, “Apabila menyerupai orang kafir dalam berpakaian dan meyakini supaya seperti mereka dengan pakaian tersebut, ia telah kafir. Jika tidak meyakini (seperti itu), terjadi khilaf di antara fuqaha’ di dalamnya: Di antara mereka ada yang berkata menjadi kafir, sesuai dengan zahir hadits; Dan di antara yang lain mereka berkata, tidak kafir tapi harus diberi sanksi peringatan.” (Lihat: Subulus salam tentang syarah hadits tesebut)

Ibnu Taimiyah rahimahullaah menyebutkan, bahwa menyerupai orang-orang kafir merupakan salah satu sebab utama hilangnya (asingnya syi’ar) agama dan syariat Allah, dan munculnya kekafiran dan kemaksiatan. Sebagaimana melestarikan sunnah dan syariat para nabi menjadi pokok utama setiap kebaikan. (Lihat: Al-Iqtidha’: 1/314)

Maka dari sini jelas bahwa merayakan Valentine's Day bukan semata maksiat, tapi kekufuran. Siapa yang nekad tetap merayakannya dan memeriahkannya bisa membayakan akidah dan keimanannya. Karenanya tidak ada alasan yang bisa dibenarkan jika umat Islam, -remaja, pemuda, atau orang tua- ikut-ikutan merayakan hari kasih sayang atas nama Valentine's Day. Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/vos-islam.com]
Sumber: http://www.voa-islam.com/islamia/aqidah/2013/02/13/23226/merayakan-valentines-day-bukan-hanya-maksiat-tapi-bisa-murtad/

Inilah Alasannya Mengapa Seorang Muslim Dilarang Merayakan Valentine

Inilah Alasannya Mengapa Seorang Muslim Dilarang Merayakan Valentine

Pembuktian Cinta yang Konyol: Valentine
Oleh: Ardiannur Ar Royya
Penggiat Diskusi di CIIA (The Community Of Ideological Islamic Analyst)
Kebenaran Valentine           
Setelah Pesta Tahun Baru ditiap awal tahun, kini masyarakat pun sibuk dengan ‘pesta’ berikutnya. Bulan Februari yang dikenal sebagai sebuah bulan yang penuh kasih sayang dan cinta, masyarakat dunia pun tentu tidak ada yang tidak tahu bahwa setiap tanggal 14 Februari akan ada sebuah perayaan besar bernama Valentine Day’s.
Perayaan ini dahulunya adalah salah satu hari raya bangsa Romawi yang menganut paganisme (menyembah berhala) semenjak lebih dari 17 abad yang lalu. Perayaan valentine tersebut dimaksudkan oleh mereka sebagai sebuah pengungkapan dan pembuktian cinta kepada sesembahan mereka.
Para ahli sejarah mengatakan bahwa dasar dan sejarah dari asal muasal hari kasih sayang ini kebanyakan memiliki latar belakang yang tidak jelas sama sekali. Memang dari beberapa sejarah yang menjadi dasar akan adanya hari kasih sayang ini memiliki beberapa kesamaan terutama dari nama tokoh sejarah yang sama, namun dari segi alur cerita, waktu dan tempat terjadinya ternyata terdapat banyak sekali versi. Masalah ini timbul karena budaya hari kasih sayang ini hanyalah sebuah budaya yang diturun temurunkan oleh Bangsa Romawi kepada keturunan mereka berikutnya termasuk kepada kaum nasrani pewaris mereka.
Di sisi lain, ada pula para ahli sejarah yang mencoba mengurutkan sejarahnya. Mereka mengatakan bahwa budaya ini telah ada semenjak abad ke-4 SM. Pada awalnya bukanlah bernama Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang, dan tanggalnya pun bukan tanggal 14 Februari. Dikatakan bahwa cikal bakal budaya tersebut ada pada budaya perayaan yang dilaksanakan setiap tanggal 15 Februari. Perayaan tersebut ditujukan untuk menghormati Dewa Lupercus (dewa kesuburan yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing), acara ini dilakukan dengan mengadakan sebuah upacara dan di dalamnya diselingi dengan sebuah sesi untuk mengambil undian dengan tujuan untuk mencari pasangan. Para gadis atau wanita yang tidak punya pasangan akan menuliskan namanya dalam sebuah kertas kemudian memasukkannya ke dalam sebuah tempat untuk mengundi. Berikutnya para lelaki akan menarik gulungan kertas yang ada secara acak yang berisikan nama para wanita tadi. Kemudian mereka menikah untuk periode satu tahun hingga upacara tahun depannya lagi dan sesudah itu mereka bisa ditinggalkan begitu saja. Dan kalau sudah tidak memiliki pasangan lagi, para wanita tadi pun akan melakukan hal yang sama kembali dan seterusnya.
Sementara itu, diceritakan pula bahwa pada 14 Februari 269 M telah meninggal seorang pendeta kristen sekaligus seorang dokter (tabib) dan dikenal dengan nama Valentine. Pada saat itu ia hidup di masa Kaisar Claudius yang dikenal luas sebagai seorang kaisar yang kejam., dan ia sangat membenci kaisar tersebut.
Kaisar Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar dan kuat, karena itulah ia menginginkan semua pria yang ada di wilayah kerajaannya bergabung di dalamnya dan menjadi pasukannya. Sayangnya, banyak orang yang menentang keinginannya ini. Hal ini disebabkan karena para pria tidak ingin meninggalkan keluarga dan kekasih hatinya. Tentu saja hal ini membuat Kaisar Claudius marah dan ia pun memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide yang sangat gila.
Kaisar Claudius berpikir jika para pria tidak menikah maka mereka tidak akan memiliki alasan lagi untuk tidak bergabung menjadi pasukan kerajaannya. Lalu Kaisar Claudius pun melarang adanya pernikahan di kerajaannya. Masyarakat di dalam kerajaannya menganggap bahwa ide ini sangat tidak masuk akal, terutama para pasangan muda. Karenanya St. Valentine pun menolak ide gila Kaisar Claudius ini.
St. Valentine pun tetap melaksanakan aktivitasnya untuk menikahkan para pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia sebagai seorang pendeta. Lama kelamaan aksi ini akhirnya diketahui oleh Kaisar Claudius dan kontan kaisar pun langsung marah. Awalnya ia hanya memberikan peringatan kepada St. Valentine namun tidak pernah digubris dan St. Valentine tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin.
Hingga pada suatu malam, ia tertangkap basah ketika memberkati salah satu pasangan. Pasangan tersebut berhasil melarikan diri, namun sayang St. Valentine tidak berhasil melarikan diri dan akhirnya ia pun dijebloskan ke dalam penjara. Keesokan harinya ia divonis hukuman mati dengan dipenggal kepalanya.
Kematian St. Valentine ini bertepatan dengan tanggal 14 Februari. Kisahnya pun menyebar dan meluas ke seluruh Roma hingga tak ada seorang pun yang tak mengetahui cerita ini. Kakek dan nenek mewariskan cerita ini ke anak cucunya dan seterusnya.
Pada tahun 494 M, Paus Gelasius I mengubah upacara Lupercaria yang sebelumnya dilaksanakan setiap 15 Februari menjadi perayaan resmi oleh gereja. Beberapa tahun kemudian, tanggal perayaan diganti menjadi 14 Februari yang bertepatan dengan tanggal matinya Santo Valentine sebagai bentuk penghormatan bahkan pengkultusan (pengagungan) pada dirinya. Dengan demikian perayaan Lupercaria sudah tidak ada lagi dan diganti dengan “Valentine Days”
Sesuai perkembangannya, Hari Kasih Sayang atau Valentine Day’s ini pun menjadi semacam rutinitas atau budaya ritual bagi kaum gereja. Agar tidak terlihat formal, maka perayaan ini dibungkus dengan saling memberi hadiah dan hiburan-hiburan.
Free Sex on Valentine
Jika kita mengartikan valentine sebatas pada berbagi hadiah, coklat, mengucapkan rasa kasih sayang maka sesungguhnya kita telah keliru. V-Day tidak hanya berhubungan dengan hal-hal tersebut, akan tetapi juga identik dengan kondom dan seks bebas. Berdasarkan pantauan dari beberapa daerah, permintaan kondom menjelang valentine meningkat pesat. Di Kota Medan misalnya, berdasarkan pantauan dari wartawan Antara, ternyata ditemukan fakta bahwa penjualan kondom di apotek meningkat pesat. Parahnya, fenomena ini terjadi merata hampir di semua daerah.
Pada dasarnya fenomena ini tidaklah aneh. Fakta lain pernah disampaikan oleh dr. Andik Wijaya, M. Rep.Med, seorang seksolog dari Surabaya. “Sekarang V-Day nuansanya cenderung romantis dan erotis” tuturnya. Tentu ini bukan omong kosong, salah satu faktor yang mengsukseskan erotisme saat perayaan Valentine adalah makanan khas V-Day berupa coklat. Menurut dr. Andik, coklat mengandung zat yang disebut Phenyletilamine atau zat yang bisa membangkitkan gairah seksual.
Budaya Valentine memang telah bertranformasi menjadi berbagai macam budaya yang ada. Di Inggris, pada 14 Februari malah dicanangkan sebagai Hari Impoten Nasional dengan tujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman impotensi 2 juta pria inggris. Bahkan di AS lebih parah lagi, 14 Februari dijadikan sebagai Pekan Kondom Nasional yang dimaksudkan sebagai kampanye nasional penggunaan kondom, karena setiap perayaan V-Day selalu diikuti dengan peningkatan kasus HIV/AIDS. Padahal tingkat kegagalan kondom mencapai 33,3 persen, sehingga bisa dikatakan bahwa kondom tidak bisa mencegah secara penuh penularan penyakit mematikan ini.
Bagaimana dengan di Indonesia? 14 Februari memang tidak hanya menjadi satu momen untuk menyatakan cinta dari para pasangan muda namun juga telah jauh terjerumus pada sebuah perayaan maksiat yang sedemikian luar biasa besar. Perilaku seks bebas yang meningkat ketika Hari Kasih Sayang ini bukanlah sebuah isapan jempolan belaka, namun memang benar adanya. Kita bisa melihat di minimarket-minimarket di kota-kota besa, di sana bisa kita temukan ketika mendekati Hari Kasih Sayang ini berbagai macam produk makanan yang dijual bersamaan dengan kondom, seperti coklat misalnya. Ini adalah indikasi besar bahwa memang pada tanggal 14 Februari ini akan terjadi aktivitas free sex secara besar-besaran, dan untuk memfasilitasi hal tersebut maka dijualah berbagai macama produk makanan berhadiah kondom.
Seks bebas memang sudah menjadi semacam kebudayaan di kota-kota besar. Terbukti 1,3 juta Anak Baru Gede (ABG) di Jakarta pernah melakukan hubungan intim. Bahkan riset yang dilakukan oleh Universitas Indonesia menunjukkan bahwa 650 ribu perempuan remaja sudah kehilangan keperawanannya. Dengan kata lain banyak dari mereka yang telah melakukan hubungan seks di luar nikah. Kepala BKKBN, Dr. Sugiri Syarief dalam acara “Workshop Generasi Berencana dan Berkarakter” menyampaikan bahwa 50% dari total ABG yang berusia 15-17 pernah melakukan seks bebas. (nyatanyatafakta.info)
Sebenarnya, momen V-Day ini dijadikan sebagai sebuah alasan dan pembenaran untuk melakukan aktivitas di atas. Free Sex on Valentine? It’s real!
Lagi, budaya latah Muslim Indonesia!
Natal 25 Desember dirayakan, tahun baru 01 Januari pun dirayakan, sekarang V-Day 14 Februari pun dirayakan. Lalu agama apa yang dianut?
Jika ada yang mengatakan bahwa Indonesia tidak punya identitas yang jelas, sepertinya hal tersebut bisa dan sangat mungkin terjadi. Indonesia yang mayoritas muslim beragama Islam, namun justru aktivitas-aktivitas mereka jauh dengan apa dan bagaimana seharusnya seorang muslim. Perayaan-perayaan yang dilakukan pun jauh dari apa yang telah diperintahkan dan digariskan oleh Islam.
Kita melihat fakta ketika bulan Desember lalu, mayoritas kaum muslim di tanah air pun seolah-olah menanggalkan identitas mereka kemudian berpindah agama sesaat untuk merayakan hari raya yang tidak pernah ada di dalam Islam, hari natal. Padahal natal adalah persoalan aqidah yang dosanya akan sangat memberatkan bagi kaum muslim yang mengaku beragama Islam melakukannya, bahkan bisa jadi jatuh ke dalam kekafiran.
Kemudian pada bulan Januari, kaum muslim pun sibuk merayakan tahun baru yang notabene perayaan tersebut sama sekali tidak ada di dalam Islam. Kaum muslim bersedia menghabiskan waktunya, mengeluarkan uang mereka, pergi bersama teman-teman mereka hanya untuk merayakan sebuah perayaan yang sebenarnya merupakan perayaan orang-orang jahiliah.
Dan kini pada Bulan Februari, mayoritas kaum muslim Indonesia pun bersiap untuk menyambut dan merayakan sebuah perayaan yang sebenarnya sama sekali bukan berasal dari Islam, V-Day. Mayoritas kaum muslim jauh-jauh hari sudah menyusun rencana apa yang akan mereka lakukan dan acara apa yang akan mereka adakan atau hadiri bersama dengan pasangan mereka. Seolah sepaket dengan hal ini, di kota-kota besar pun berbagai macam suasana dibuat untuk menyambut datangnya V-Day, baik berupa penjualan coklat yang semakin marak sebagai tanda hari V-Day, atau dekorasi toko-toko, mall-mall, yang dibuat sesuai dengan tema V-Day, atau bahkan penjualan kondom yang semakin banyak dan meluas.
Seolah-olah memang benar bahwa Indonesia tidak punya identitas, meniru budaya barat dengan tujuan agar bisa maju dan berkembang seperti dunia barat. Padahal hal tersebut sama sekali tidak berhubungan. Bukti sederhana bahwa Indonesia adalah negara pembebek barat dan hampir kehilangan identitasnya.
Muslim : Say No to Valentine!
Setidaknya ada beberapa alasan mengapa budaya valentine wajib kita tolak. Selain karena efek negatif nya yang luar biasa besar juga yang lebih penting adalah karena budaya ini dilarang di dalam Islam. Dan bagi mereka yang beragama Islam maka budaya ini bersifat haram untuk dilakukan.
Pertama, kita ketahui bahwa valentine berasal dari aqidah paganis (penyembah berhala) kaum romawi yang dilakukan untuk mengungkapkan rasa cinta mereka kepada berhala yang mereka agungkan selain Allah SWT. Artinya barang siapa yang merayakan V-Day maka juga merayakan momen tersebut. Padahal Allah telah berfirman :
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al-Maidah : 72)
Karena itulah seorang muslim wajib berhati-hati kepada sesuatu yang syirik ataupun aktivitas yang menghantarkan kepada kesyirikan seperti V-Day ini. Tentunya sudah diperingatkan secara tegas oleh Allah dan RasulNya tentang balasan bagi orang yang berbuat syirik, dan sesungguhnya siksa Allah sangatlah pedih dan Allah tidak pernah ingkar janji.
Kedua, bagi kaum muslim, hari raya yang mereka miliki hanyalah dua yakni Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Disitulah kaum muslim memiliki serangkaian aktivitas ibadah, dan ritual sesuai dengan yang telah digariskan oleh Islam. Tentu tidak ada dalam ajaran Islam hari raya selain kedua hal tadi, maka begitu juga V-Day. Ia sama sekali tidak berhubungan dengan kaum muslimin dan tidak pantas untuk dirayakan kecuali memang ada tuntunan dari Rasulullah bahwa ada keharusan untuk melaksanakan dan merayakan V-Day. Ada suatu kaidah fiqh yang ma’ruf dikalangan para ulama besar : “Hukum asal ibadah adalah haram (sampai adanya dalil).” Artinya segala macam aktivitas ritual di dalam Islam seperti shalat, zakat, puasa, dan lain sebagainya adalah haram awalnya hingga dalil memerintahkannya. Sedangkan V-Day sampai sekarang tidak pernah kita temukan dalil dan korelasi aktivitasnya dengan ibadah yang harus dilakukan oleh seorang muslim. Karena itu haram hukumnya untuk melakukan perayaan V-Day.
Ketiga, para ahli sejarah banyak yang memperselisihkan akan dasar awal mula peringatan V-Day ini. Bahkan keterkaitan St. Valentine pun diperselisihkan, termasuk sebab dan kisahnya. Ada pula yang menganggapnya tidak pernah terjadi, hal ini membuat kaum nasrani tidak mengakui perayaan paganis yang mereka tiru dari bangsa Romawi paganis. Para pemuka Nasrani telah menentang perayaan ini karena menyebabkan timbulnya kerusakan akhlak pemuda dan pemudi akibat aktivitas-aktivitas dalam perayaan V-Day ini. Hingga kemudian dilaranglah perayaannya di Italia, pusat Katholik. Lalu kemudian perayaan ini muncul kembali dan tersebar di Eropa, berlanjut menular pada negeri-negeri kaum muslimin. Bila para pemuka Nasrani –pada masa mereka- saja telah mengingkari adanya budaya perayaan V-Day ini, maka tentu para ulama kaum muslimin dan para cendekiawannya wajib menerangkan hakikatnya dan hukum merayakannya kepada kaum muslimin secara luas. Sebagaimana wajib bagi kaum muslimin untuk mengingkari dan mengharamkan serta tidak menerima budaya jahiliah ini.
Keempat, sesungguhnya V-Day atau Hari Kasih Sayang adalah sebuah kedok untuk legalnya aktivitas free seks dan aktivitas-aktivitas maksiat lainnya. Sebelumnya telah disampaikan bagaimana momen ini dijadikan sebagai sebuah pembenaran atas nama cinta untuk melakukan aktivitas zina dan free seks. Di sisi lain, budaya ini juga adalah sebuah budaya rusak yang bertujuan untuk menghancurkan generasi pemuda kaum muslim hingga mereka menjadi tukang pesta dan ahli maksiat sehingga perubahan-perubahan besar yang seharusnya bisa mereka bawa demi membangkitkat umat tidak akan pernah terjadi. Padahal Allah berfirman :
“Dan janganlaah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra : 32)
Inilah beberapa alasan mengapa sebagai seorang muslim wajib menolak perayaan V-Day. Tentunya selain karena tidak adanya ajaran di dalam Islam mengenai perayaan hari ini, dan sikap yang tegas dari hukum Islam yang mengharamkan hal ini sebagai alasan utama. Juga alasan lain berupa fakta kerusakan yang ditimbulkan dari dilaksanakannya Valentine ini. Merebaknya free seks, zina, HIV/AIDS, dan kerusakan-kerusakan lainnya.
            V-Day sesungguhnya bukanlah hari pembuktian cinta, atau hari kasih sayang karena justru pada hari ini lah kebanyakan manusia yang mengatakan mereka melakukan aktivitas seperti free seks, zina, dan lainnya atas nama cinta, sedang menodai arti cinta itu sendiri. Bagaimana mungkin cinta diartikan hanya sebuah pemuasan nafsu belaka? Pemenuhan kebutuhan biologis saja? Dan bagaimana mungkin atas nama cinta semuanya boleh dan legal untuk dilakukan.
Sesungguhnya Islam lah yang mampu menempatkan perasaan cinta pada manusia di tempat yang seharusnya. Islam tidak mengekang apalagi membunuh fitrah manusia untuk mencintai ini, namun juga tidak membiarkannya hingga menjadi tak terbatas dan menggila. Islam mengaturnya dengan sangat baik, menempatkannya di tempat yang seharusnya, dan menjaganya dengan sangat luar biasa. Hingga sesungguhnya cinta itu benar-benar indah, baik, dan juga membahagiakan. Cinta yang menjadi pewarna yang begitu baik di dunia, bukan justru yang seringkali menimbulkan kerusakan dan kemaksiatan yang luar biasa besar. Itulah cinta kepada Allah dan RasulNya, mencinta atas dasar aqidah Islam dan keimanan yang kuat.
Jika kita ingin membuktikan cinta kita maka buktikanlah dengan cara-cara yang telah ditetapkan oleh Islam. Dan sesungguhnya bukti cinta paling besar dan berharga adalah dengan taat kepada aturan Allah dalam setiap lini kehidupan, tidak kurang sedikitpun. Jika saat ini hukum Allah sedang ditanggalkan dan dicampakkan, maka menjadi sebuah kewajiban bagi kaum muslim untuk mengembalikannya di tempat seharusnya, yakni sebagai pengatur tunggal dalam kehidupan manusia. Itulah perjuangan untuk menerapkan syariat Allah dan menegakkan Khilafah Islamiyah sebagai pelindung dan pelaksana hukum-hukum Allah. Wallahu a’lam bi ash shawab. [Ahmed Widad]
Sumber: http://www.voa-islam.com/counter/liberalism/2013/02/14/23230/inilah-alasannya-mengapa-muslim-dilarang-merayakan-valentine/

03 Januari 2009

MENGAPA ALLAH SERING BERKATA "KAMI" DALAM AL-QUR'AN?

Di dalam Al-Qur'an, Allah berkali-kali berfirman dalam bentuk kata ganti orang pertama jamak "Kami" dan jarang sekali ada kata ganti pertama tunggal "Aku,-Ku" dan bahkan ada nama-Nya sendiri, yaitu "Allah" dan kadang-kadang "Tuhanmu" atau "Dialah". Sebenarnya ada apa dengan itu? Mengapa Allah sering menggunakan kata ganti orang pertama jamak "Kami"?

Perhatikan beberapa ayat berikut ini:

ALLAH BERFIRMAN DENGAN MENGGUNAKAN KATA GANTI JAMAK "KAMI" :
Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (Al-Baqarah: 146)

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa". (Al-Baqarah: 63)

Maka janganlah kamu berada dalam keragu-raguan tentang apa yang disembah oleh mereka. Mereka tidak menyembah melainkan sebagaimana nenek moyang mereka menyembah dahulu. Dan sesungguhnya Kami pasti akan menyempurnakan dengan secukup-cukupnya pembalasan (terhadap) mereka dengan tidak dikurangi sedikitpun. (Huud: 109)

Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia. (Al-Ankabut: 15)

Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (Faathir: 24)

Maka Kami siksa dia dan tentaranya lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut, sedang dia melakukan pekerjaan yang tercela. (Adz-Dzaariyaat: 40)

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. (Al-Qadr: 1)

Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. (Fushshilat: 31)

Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertakwa. (Fushshilat: 18)

Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul. Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih; (Al-Furqon: 37)

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?. Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. (Al-Anbiyaa: 30-31)

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr: 9)

Dan masih banyak lagi! Namun, mengapa Allah mengatakan "Kami", bukan "Aku"?

Allah mengatakan "Kami" secara konsisten apabila dalam suatu perbuatan malaikat ikut terlibat. Misalnya saja, peristiwa terciptanya langit dan bumi, ketika Allah menciptakan langit maka malaikat pun ikut membantu-Nya (padahal Allah sendiri tidak pernah membutuhkan bantuan). Allah juga menghargai apa yang para malaikat lakukan kepada-Nya dalam suatu aksi. Misalkan saja dalam surat Fushshilat ayat 31, yang ditegaskan bahwa Allah dan para malaikat adalah pelindung-pelindung dalam kehidupan dunia dan akhirat. Juga dalam kata ganti lain, seperti nama-Nya sendiri "Allah" digunakan apabila Allah menyampaikan firman-firman-Nya yang berisikan ajaran-ajaran-Nya kepada para nabi dan rasul atau makhluk lainnya. Dan juga terdapat kata "Tuhanmu" digunakan apabila Allah sedang berfirman kepada manusia untuk merenungkan siapa Tuhan itu sebenarnya dan juga supaya manusia bisa berpikir bahwa Tuhan yang selama ini dia sembah dan tempat dia berdoa adalah Allah. Dan juga kata ganti pertama tunggal "Aku" digunakan apabila Allah berfirman kepada seorang manusia atau makhluk lain dan sikap ibadah kepada makhluk lain, maka Dia mengekspresikan firman-Nya dengan menggunakan kata ganti orang pertama tunggal tersebut. Dan juga kata "Dialah", digunakan supaya manusia bisa berpikir tentang Allah yang meliputi kekuasaan-Nya, sifat-sifat-Nya, dan keesaan-Nya. "DIalah Tuhanmu Yang Esa", "Dialah Tuhanmu yang menciptakan langit dan bumi", "Dialah Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana."

Semoga artikel ini bermanfaat.
Wassalamu a'laikum wr.wb.

01 Januari 2009

MENGAPA ALLAH MELARANG BERZINA?

Berzina, berasal dari kata dasar "zinna", yang berarti "melakukan hubungan seksual di luar nikah" atau "memanfaatkan nafsu birahi untuk bersenang-senang". Dalam istilah lain disebut "seks bebas" atau "freesex" dalam bahasa Inggrisnya. Zina berarti melakukan atau berbuat sesuatu untuk mencari kesenangan dengan cara berhubungan seksual tanpa adanya suatu ikatan perkawinan atau dengan istilah lain disebut "kumpul kebo". Mengapa dikatakan "kumpul kebo (kerbau)", karena ya seperti itu, kerbau adalah binatang yang apabila ia ingin kawin dengan betinanya, maka dia sendiri akan berkumpul dan melakukan hubungan badan dengannya. Maka, alangkah jijiknya apabila perbuatan mereka ditiru oleh manusia.

Dalam Islam, Allah dengan tegasnya melarang berbuat zina karena perbuatan itu adalah perbuatan keji, berdosa, dan melampaui batas. Dalam beberapa ayat-ayat Al-Qur'an ditegaskan:

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Q.S. Al-Isra: 32)

Barangsiapa mencari yang di balik itu (Zina), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Q.S. Al-Mu'minun: 7)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan demikian mengapa berbuat zina itu diharamkan dan termasuk perbuatan yang melampaui batas.

Tetapi, ada sebuah pikiran yang terlintas di benak kita, mengapa Allah dengan tegasnya melarang berbuat zina? Dan mengapa juga Allah berfirman dalam Surat Al-Israa: 32, yang menyatakan bahwa zina itu perbuatan yang keji dan jalan yang sangat buruk?

Kalau kita lihat-lihat, maka berhubungan seksual hanya untuk mencari kesenangan itu adalah perbuatan yang sangat jelek. Bahkan, kalau perbuatan itu kita bandingkan dengan binatang yang nafsu birahinya sudah terlewatkan ingin bersetubuh dengan pasangannya maka tidak jauh berbeda dengan perbuatan tersebut (berzina). Padahal, perbuatan seperti itu hanya boleh digunakan untuk memperoleh keturunan, bukan bersenang-senang. Jadi, betapa malunya apabila seorang pelajar atau seorang gadis remaja yang hamil di luar nikah. Itu disebabkan karena mereka sendiri telah salah memilih pergaulan dan melampaui batas. Makanya, jangan sekali-kali mengajak pacar atau kekasih mengobrol atau bermesraan di tempat yang sepi atau terpencil, karena dijamin 100% akan terjadi suatu perbuatan yang tidak diinginkan.

Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna dinatara makhluk-makhluk-Nya yang lain. Manusia sendiri oleh Allah dikaruniai oleh dua kemampuan yang berada dalam diri kita, yaitu akal dan nafsu. Akal digunakan untuk mengilhami ayat-ayat Allah dan untuk mememcahkan suatu masalah dalam hidup kita. Juga digunakan untuk mencari suatu jalan keluar sebuah permasalahan. Demikian juga nafsu, dibagi dalam beberapa bagian, yaitu: nafsu birahi, nafsu makan, dan nafsu kepuasan. Manusia, kalau ingin melampiaskan suatu nafsu birahi dengan pasangannya, harus melewati suatu perjanjian khusus antara masing-masing pasangan dengan beberapa saksi yang kita sebut dengan nikah atau kawin. Mengapa harus dilalaui dengan jalan seperti itu, karena bukankah manusia sendiri adalah makhluk yang istimewa dibandingkan dengan makhluk lain, maka dengan jalan itu (perkawinan), manusia dihalalkan untuk berbuat apa saja yang dapat memancing nafsu syahwat (birahi) kepada pasangannya juga untuk memperoleh keturunan (karena tujuan perkawinan sudah jelas, yaitu untuk memperoleh keturunan!).

Bagaimana dengan binatang? Jangan ditanya! Binatang sendiri adalah makhluk Allah yang diberi kebebasan untuk berbuat apa saja, termasuk makan, kawin, berburu, atau bahkan menguasai daerah lain. Binatang sendiri kalau hendak kawin, maka dia langsung main kejar-kejaran dengan pasangannya lalu berhubungan badan setelah kedapatan sang pasangan tertangkap olehnya. Binatang sendiri oleh Allah dikaruniai oleh satu kemampuan saja, yaitu nafsu. Mengapa demikian, karnea kalau Allah mengkaruniai binatang itu dengan akal, maka otomatis pergaulan antara manusia dengan binatang tidak dapat terelakkan lagi. Binatang sendiri dikaruniai oleh Allah suatu kecerdasan yang sangat kecil dibandingkan dengan manusia. Coba saja kita lihat kucing. Binatang satu ini kalau melihat atau bahkan mencium suatu aroma yang sedap, maka tanpa berpikir panjang dia akan langsung main masuk untuk memakan yang sudah dicium dan dilihat itu. Mengapa demikian? Bukankah sudah dikatakan, bahwa binatang itu dikaruniai oleh Allah hanya satu, yaitu nafsu, bukan akal. Jadi, binatang itu sendiri adalah makhluk tanpa akal. Kucing sendiri tidak terlalu peduli kalau rumah atau suatu daerah ada sesuatu yang diciumnya dan dilihatnya itu adalah milik manusia atau hewan lain atau ada pemiliknya. Karena dia sendiri adalah makhluk yang berbunyi "lakukanlah selagi masih sempat" dan sama dengan makhluk yang lainnya.

Binatang juga kalau kawin tanpa pandang bulu. Kalau nafsunya tiba-tiba meningkat, maka dia akan melampiaskan nafsunya tersebut ke betina tanpa berpikir panjang. Kalau soal hukum kawin ala binatang itu tidak jauhnya berbeda dengan perbuatan seks bebas ala manusia. Binatang sendiri kalau ingin pesta kawin, tanpa melihat daerah sekitar akan dilakukan dimana saja. Di kota, di desa, atau di keramaian orang mereka kawin dengan seenaknya.

Berzina sendiri merupakan hukum perkawinan ala binatang yang diterapkan oleh orang-orang yang melampaui batas (orang kafir). Lihat saja, tingkah laku mereka, persis seperti binatang. Bahkan yang lebih parah dan super gila lagi, adegan mereka ala binatang di pertontonkan dan bahkan dirilis dalam situs internet. Idih...menjijikan!!! Kita sebagai seorang manusia merasa malu dengan tingkah laku mereka, meskipun mereka sendiri adalah manusia-manusia juga. Bagaimana mungkin, adegan seks bebas mereka pertontonkan begitu saja, ini sama juga dengan binatang. Binatang sendiri kalau sedang kawin juga bebas untuk dipertontonkan dan gratis untuk dipertaruhkan. Perzinaan manusia dengan perkawinan antar binatang sama-sama kotor, mesum, dan keji.

Oleh karena itulah, mengapa Allah dengan tegas melarang berbuat zina dan sungguh-sungguh akan mengazab mereka bagi siapa saja yang berbuat demikian di neraka nanti. Hal itu disebabkan berbuat zina itu sama juga berbuat serupa dengan binatang. Karena, Allah sudah menetapkan bahwa manusia dan binatang itu hidupnya berpisah. Manusia itu bergaul dengan manusia, sedangkan binatang sendiri juga bergaul dengan binatang. Namun, apabila ada seorang manusia yang sudah terbiasa melakukan zina (seks bebas/pezina), maka sudah dipastikan bahwa dia sendiri bukan manusia lagi, melainkan binatang berwujud manusia! Maka dari itu, sadarlah akan perbuatan dosa kita selama ini! Dan sekali lagi, hindarilah untuk berbuat zina, sebab dengan menghindarinya kita akan sadar bahwa kita adalah manusia yang benar-benar diciptakan oleh Allah untuk saling berkasih sayang terhadap pasangan kita. Tahanlah nafsu syahwatmu, janganlah berbuat zina, dan apabila kalian ingin berbuat seperti itu, maka adakanlah perjanjian antara beberapa saksi dengan cara menikah. Sebab, dengan cara itu, kita akan menjadi manusia yang sebenar-benarnya, yaitu manusia yang gaya hidupnya terhindar dan berbeda jauh dengan gaya hidupnya para binatang.